“Semoga generasi muda tidak meninggalkan sejarah, melainkan terus menggali ilmu pengetahun bahwa rumah-rumah tersebut benar-benar ada sejak jaman purbakala,”.

Hadi Koordinator Musium Kayu

WARTAKALTIM.CO, Kukar – Waduk Panji Suka Rame merupakan salah satu obyek wisata yang dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kutai Kartanegara (Kukar) Kalimantan Timur (Kaltim), bahkan obyek tersebut menawarkan berbagai wahana edukasi menarik, juga terdapat museum kayu, miniatur kerajaan hingga rumah Kutai tempo dulu.

Penasaran ingin mengetahui sejarah dan jejak rumah tempo dulu, silahkan kunjungi waduk suka rame, nikmati keindahan alamnya serta wahana edukasi menarik lainnya.

Kepada Wartakaltim.co, Minggu (14/8/2016) sore, Koordinator Musium Kayu Hadi menuturkan miniatur rumah Kutai tempo dulu saat ini sudah dibangun, tujuannya adalah untuk mengingatkan kepada generasi muda bahwa pada fase jaman purbakala terdapat beberapa jenis rumah mulai dari rumah berdinding kulit, rumah dinding kajang, dinding susun sirih dan lainnya. “Rumah-rumah seperti inilah yang dimiliki orang Kutai tempo dulu,” katanya.

rumah2

Menurut Hadi menjelaskan, masing-masing rumah memiliki teras  dengan panjang 1 (satu) setengah meter, sedangkan ruang tengah memiliki lebar 3×4 cm ditambah ruangan dapur 2×2 meter.

Adapun pembangunan rumah pertama kali jelas Hadi, dimulai dari rumah dinding kulit kayu yang ketangkanya terbuat dari kayu sungkai, dinding dari  kulit kayu karnanga, beratapkan daun nipah serta beralaskan lantai yang terbuat dari bambu jelayan.

“Konon pada jaman dulu manusia purba tinggal di dalam goa dan sudah tidak menemukan makanan, oleh sebab itulah munusia purba berpindah-pindah tempat untuk mendapatkan makanan. Disanalah mereka membangun rumah yang terbuat dari kulit kayu dan daun karnanga hanya terdapat di kecamatan Kota Bangun Desa Sedulang,” kata Hadi mengisahkan.

Selanjutnya pada fase berikutnya ada rumah dindin kajang terbuat dari kerangka kayu sungkai, dinding daun pandan yang biasa orang Kutai menyebutnya  “Daun bengkuang” atau atap daun nipah diperoleh dari kecamatan Penyinggahan Kutai Barat. Rumah tersebut memiliki lantai yang terbuat dari bambu jelayan.

rumah3rumah1

“Agar tahan lama masyarakat biasanya, merendam bambu terlebih dahulu, lalu dikeringkan sehingga bisa bertahan hingga 1 (satu) tahun lamanya,” ujarnya.

Kemudian masuklah pada fase rumah adat Kutai, pada fase ini lanjut Hadi, rumah Kutai terbuat dari papan susun sirih dengan kerangka kayu keruing, atap sirap dengan dinding dan lantainya dari kayu meranti. Fase rumah ini dibuat karena manusia purba sudah mengenal papan yang berasal dari kayu yang sudah di potong rapi tapi belum di ketam seperti saat ini jamannya sudah modern. “Kenapa disebut dengan susun sirih, karena papan yang satu menindih papan lainnya,”. katanya.

Dia berharap adanya bangunan rumah kutai tempo dulu ini akan memberikan inspirasi tersendiri bagi generasi muda untuk lebih mengenal sejarah tempo dulu.

“Semoga generasi muda kita tidak meninggalkan sejarah, melainkan terus menggali ilmu pengetahun, bahwa rumah-rumah tersebut benar-benar ada sejak jaman purbakala,” harapnya.

rumah

Ditambahkan Hadi, pihaknya juga akan membuat dua fase rumah modern yang kayunya sudah halus diketam, “Semua bangunan rumah adat Kutai tempo dulu ini dibangun dan dibiaya oleh Disbudpar, selanjutnya akan dibangun rumah modern sebagai pelengkap rumah tempo dulu hingga modern, hanya ada di obyek wisata penuh sejarah waduk panji suka rame,”. Demikian pungkasnya. (Yuni/Irwan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.