Ketika NU Dianggap Khianat Islam dan Membantu Republik Kafir

Ketika NU Dianggap Khianat Islam dan Membantu Republik Kafir
Photo Credit To Kapolri Jenderal Tito Karnavian bertemu pimpinan sejumlah ormas Islam di Kantor PBNU, Rabu (31/1/2018). (Foto: Haris-detikcom)

WARTAKALTIM.CO, Jakarta – Dikutif dari laman news.detik.com, Kamis (1/2/2018). Saat bertugas sebagai Koordinator Majelis Pimpinan Haji di Mekkah pada 1952, KH Idham Chalid mendapatkan telegram dari PBNU. Isinya mengabarkan mengabarkan bahwa NU resmi menjadi Partai Politik. Dia pun diminta segera menyurati pimpinan DPR untuk mengabarkan keluar dari Fraksi Masyumi.

Idhan yang tengah bersiap untuk melakukan tawaf di Masjidil Haram lantas mengundang tiga koleganya, KH Siradj, KH Dahlan, dan KH Masruni untuk berdo’a.

“Wahai Tuhanku, jikalau berdirinya NU sampai menjadi partai politik memisahkan diri dari Masyumi akan membawa manfaat kepada agama-MU, berilah kami kekuatan. Jikalau akan membawa mudlarat kepada agama-Mu yang suci ini, maka mohon berilsah kesadaran cepat kepada kami dan mohon distoplah. Kalau NU bermanfaat, mohon diberi kekuatan terus, jikalau tidak, biar bubar saja,” demikian do’a mereka kala itu seperti terungkap dalam buografi Idham Chalim, Tanggung Jawab Politik NU dalam Sejarah.

Singkat kisah, NU menjadi peserta Pemilu 1955 dan meraih suara diluar perkiraan banyak pihak karena berhasil mengungguli PKI. Dalam Kabinet Ali Sastroamidjojo II, Idham kemudian dipercaya menjadi Wakil Perdana Menteri II merangkap Kepala Badan Keamanan.

“Tugas saya paling berat adalah menghadapi gerombolan yang membawa dalil-dalil agama Islam,” kata Idham masih dalam buku yang disunting Aried Mudatsir Mandan itu. Gerombolan dimaksud antara lain Darul Islam Kartosuwiryo di Jawa Barat, Ibnu Hadjar di Kalimantan Selatan, Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, dan Tengku Daud Beureueh di Aceh.

Mereka kerap melakukan aksi-aksi teror dan kekerasan terhadap warga masyarakat muslim sekalipun yang dianggap berbeda. Idham pun tak luput dari upaya pembunuhan. Saat menginap di Puncak, sepulang dari Bandung menuju Jakarta, misalnya, Ketua I PBNU itu ditembaki gerombolan DI/TII dari arah perbukitan. Dia tiarap di kolong ranjang sehingga luput dari terjangan peluru.

Begitu pun saat naik kereta api menuju Jawa Timur gerombolan DI/TII pernah menembaki rangkaian kereta saat melintas antara Gambir dan Pegangsaan. Beruntung peluru hanya mengenai ujung kopiah ajudannya, H. Djumaksum. “Sasaran tembakan pastilah saya, menteri yang mengurusi keamanan,” kata Idham.

Dia menilai kehadiran DI/TII sangat merugikan Islam karena aksi-aksinya bersifat provokatif dan anarkis. Banyak umat Islam yang menjadi korban kekejaman mereka. Beberapa orang pimpinan cabang NU di Jawa Barat dibakar rumahnya oleh DI/TII, bahkan ada yang ditembak mati. Suatu rapat NU pernah diserang mereka.

Penyebab semua itu terkait dengan keputusan NU keluar dari Masyumi. Mereka menganggap NU sebagai pengkhianat Islam dan menjadi musuh utama DI/TII karena keputusan tersebut.

“Mereka menganggap NU membantu Republik Indonesia Kafir (RIK). Apalagi salah seorang ketuanya menjadi wakil perdana menteri yang memegang urusan keamanan,” kata Idham.

Guna meredam DI/TII, selain mengerahkan berbagai pasukan tentara, Idham juga melibatkan para kiai dengan membentuk KPK (Kiai-Kiai Pembantu Keamanan). KKP diketuai KH Muslich dari Jakarta, dengan anggota sejumlah kiai di tiap daerah yang dideteksi ada aktivitas bawah tanah DI/TII. (jat/jat/dtc/wkc)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *