BELIMBUR – Prosesi pengambilan air tuli oleh Putra Mahkota HAP sebelum upacara berlimbur dimulai. (Foto: Betty)

WARTAKALTIM.CO – Pelaksana tugas Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah, Minggu (28/7) pagi menutup secara resmi Erau adat dan International Folk Art Festival (EIFAF) VI tahun 2018 di Museum Mulawarman Tenggarong.

Tampak hadir dalam acara tersebut pasangan Cagup dan Wagup terpilih Isran Noor dan Abdul Hadi, Forum Koordinasi pimpinan daerah, Putra Mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat, Kepala dinas instansi terkait dan sejumlah undangan lainnya.

Dalam sambutnya, mengulur Naga, merupakan puncak kegiatan adat pada upacara Erau Adat Kutai. Selama 7 (tujuh) hari, 2 (dua) buah replika naga telah bersemayam di Istana Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura untuk kemudian dilarungkan di Kutai Lama, tempat dimana asalnya. Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kaltim, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu.

Prosesi mengulur naga, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kutai Kartanegara, tetapi acara ini juga dihadiri oleh peserta Festival Kesenian Rakyat Internasional VI dalam rangka Erau Adat Kutai 2018 dari negara Hongaria, India, Meksiko, Polandia, Rumania dan Turki.

“Memang seni budaya itu universal, sehingga nilai-nilai luhurnya  dapat dipahami oleh siapa saja dan darimana pun asalnya,” ujarnya.

Dikatakannya, upaya Pemkab Kukar menyelenggarakan Festival Kesenian Rakyat Internasional dalam rangka Erau Adat Kutai, tidak lain untuk mengangkat upacara adat luhur ini dikenal oleh masyarakat dunia.

“Kita harus membuka banyak jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai, sekaligus memajukan pariwisata daerah dan nasional,” katanya.

Ia juga mengatakan, mengulur naga menjadi momen spesial bagi masyarakat. Tradisi mengiringi pelepasan naga menuju kapal yang akan membawanya ke Kutai Lama berlangsung secara alami. Edi juga  mengingatkan kembali kepada masyarakat Kutai Kartanegara yang hadir, bahwa setelah naga dibawa di bawa di atas kapal menuju Kutai Lama, di dalam istana masih akan berlangsung serangkaian prosesi adat seperti beumban dan begorok.

Prosesi belimbur akan dimulai setelah Sultan melaksanakan prosesi adat di rangga titi. Mengingat belimbur memilki makna pembersihan diri dari pengaruh jahat, maka  untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada acara belimbur ini.

Pada kesempatan itu, Edi mengikuti Putra Mahkota serta sejumlah undangan menuju ke dermaga Musium Mulawarman untuk selanjutnya melalukan prosesi berlimbur yang diawali oleh Putera Mahkota H. Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat dan diikuti oleh peserta yang hadir.

(betty/wkc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.