UJI PETIK – Tim Asesor PMK3I BEKRAF RI Tyas Ajeng Nastiti saat presentasi hasil uji petik sub sektor unggulan Kutai Kartanegara. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, KUKAR – Tim Uji Petik PMK3I (Penilaian Mandiri Kabupaten/Kota Kreatif Indonesia) Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) RI, menyarankan kepada semua pelaku seni dan keterampilan yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mendaftarkannya sebagai hak cipta dalam Hak Kekayaan Intelektual (HAKI).

“Dalam rekomendasi, Tim Asesor Bekraf RI menyarankan mulai tahun 2018 dengan peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan dan perlindungan hak cipta terhadap HAKI segera didaftarkan ke Ditjen HKI,” kata Tyas Ajeng Nastiti Asesor PMK3I, saat presentasi hasil uji petik subsektor unggulan Kutai Kartanegara, baru-baru ini di Tenggarong.

Menurut Tyas, HAKI merupakan hak ekslusif yang diberikan negara kepada seseorang, sekelompok orang, maupun lembaga untuk memegang kuasa dalam menggunakan dan mendapatkan manfaat dari kekayaan intelektual yang dimiliki atau diciptakan.

“Artinya, subsektor unggulan yang dimiliki kabupaten Kutai Kartanegara sangatlah potensial, terutama dari tiga sub sektor Ekonomi Kreatif (Ekraf) yakni aktor musik, seni pertunjukan dan film, video, animasi,” ujarnya.

Adapun dalam hasil uji petik lanjut Tyas, menyimpulkan 4 rekomendasi bagi sub sektor unggulan Kukar yakni, (1). Bantuan pembiayaan pemkab untuk perawatan sarana kegiatan pertunjukan dan subsektor kreatif lainnya. (2). Memperkuat posisi himpunan pelaku-pelaku kegiatan seni pertunjukan oleh komunitas seni. (3). Kolaborasi kegiatan wajib dan eksrakulikuler tingkat pendidikan dasar dan menengah termasuk perguruan tinggi dengan pendepokan dan sanggar-sanggar. (4). Peningkatan kualitas dan kapasitas pengusaha melalui workshop, pelatihan, dan pemodalan.

Kemudian, rekomendasi menyangkut internal dan eksternal lanjut Tyas, meliputi kreasi, produksi, distribusi, konsumsi. Keterbatasan bahan baku kebutuhan seni pertunjukan dapat diperoleh di area Kalimantan, seperti Samarinda, Balikpapan dan sekitarnya. Kreasi berupa keberagaman seni pertunjukan dan festival musik berbasis budaya maupun kontemporer.

Sementara distribusinya sendiri kata Tyas, dapat dilakukan skala nasional, melalui seni pertunjukan yang ditampilkan secara regular dan berkala dan mampu menyedot perhatian pendatang di skala nasional bahkan diharapkan skala internasional. Konsumsinya sendiri belum sampai skala internasional tapi berpotensi di pasaran Asia Pasifik. Konsumsi ini dapat dilakukan dengan film, video yang menarik.

“Adapun rekomendasi ke-3 yakni jangka waktu 3 tahun dimulai dari 2018 dengan peningkatan kapasitas pengetahuan dan keterampilan dan perlindungan hak cipta terhadap HAKI. 2019 mulai dilakukan pengembangan seni pertunjukan dan festival-festival khas Kukar yang dapat dipromosikan secara menyeluruh baik domestik maupun internasional dan terintegrasi. Kemudian pada 2020 dilakukan pengembangan identitas Kukar berbasis subsektor unggulan yang mampu menggerakkan ekonomi kreatif di Kutai Kartanegara,”. Jelasnya.

(irwan/wkc)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.