Plt Bupati Kukar Edi Damansyah (Foto: Irwan)

WartaKaltim.co – Plt Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah mengatakan agenda Festival Erau Adat Kutai dan International Folk Arts Festival (EIFAF) yang biasanya digelar pada bulan Juli setiap tahunnya, kini akan digeser pada bulan September 2019, bertepatan dengan Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Raja Tenggarong.

“2019, saya rencanakan agenda Erau Adat Kutai digeser pada September bertepatan HUT Kota Raja Tenggarong,” kata Edi usai membuka Kampoeng Telihan dan Pameran Foto Tempo Dulu, Festival Kampoeng Telihan (FKT) di Kecamatan Muara Muntai, baru-baru ini.

Baca juga: Edi Damansyah Buka Festival Kampoeng Telihan di Muara Muntai

Menurut Edi, hal tersebut berdasarkan evaluasi yang sudah dilakukan dengan mengembalikan marwah dari festival Erau tempo dulu. Masing-masing kecamatan dapat mengirimkan delegasinya untuk menampilkan kreasi kearifan lokal yang dimiliki.

“Ya, kita ingin menata kembali prosesi kegiatan Erau seperti tempo dulu. Artinya, 18 kecamatan yang ada di Kukar dapat mengirimkam delegasinya masing-masing untuk menampilkan beragam seni budaya lokal yang dimiliki,” ujarnya.

Untuk itu, Edi berharap kepada semua camat agar proaktif melakukan pembinaan kepada semua komunitas dan kelompok seni yang ada di masing-masing kecamatan.

“Saya minta setiap kecamatan mengirimkan delegasinya, setiap kontingen kecamatan tidak hanya dimonopoli oleh satu desa saja, tapi bagian dari seluruh desa yang merupakan binaan kecamatan itu sendiri,” katanya.

Dia juga berharap festival kampoeng telihan Muara Muntai terus digaungkan dan dikembangkan sehingga bisa menarik pengunjung datang ke Muara Muntai.

“Saya menghimbau semua komponen masyarakat termasuk dunia usaha, berpartisipasi dan memberi dukungan pelestarian adat istiadat budaya. FKT ini harus terus dihidupkan dan dikemas lebih menarik lagi kedepannya,” pinta Edi.

Ditambahkan Edi, festival kampoeng telihan menjadi contoh kecamatan lainnya, terus berinovasi dan berkreasi dalam melestarikan kearifan lokal yang ada, berdampak luas terhadap ekonomi masyarakat.

“Jika banyak orang datang, tentunya rumah makan akan laku, produk-produk Usaha Mikro, Kecil Menengah (UMKM) juga turut berkembang. Silahkan dikembangkan tidak hanya di Muara Muntai, melainkan kecamatan lainnya juga harus berinovasi,”. Jelasnya.

(wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.