Foto: Tim Infografis

Jakarta – PT Pertamina (Persero) menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) Pertamax. Contohnya, di Jakarta naik sebesar Rp 900/liter menjadi Rp 10.400. Hal itu diprediksi membuat pengguna Pertamax pindah ke Pertalite. Dengan kata lain pengguna Pertalite bakal meningkat.

Lantas, apakah itu membuat impor minyak bakal meningkat dan berdampak ke bertambahnya defisit transaksi berjalan?

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, meningkatnya konsumsi Pertalite karena harga Pertamax naik tidak akan membahayakan defisit transaksi berjalan. Pasalnya kuota impor akan tetap sama.

Dia menjelaskan, konsumsi BBM di Indonesia adalah 1,6 juta barel/hari. Kebutuhan yang diproduksi dalam negeri sebesar 800 ribu. Sementara yang diimpor, yakni 400 ribu barel minyak jadi, dan sisanya minyak mentah.

“Jadi secara kuota impornya akan tetap sama sekitar 800 ribu barel, tidak akan mempengaruhi (peningkatan impor dan defisit transaksi berjalan),” katanya kepada detikFinance, Jakarta, Kamis (11/10/2018).

Jadi minyak yang diimpor oleh Indonesia berdasarkan pasar Mean of Platts Singapore (MOPS), Ronnya sudah 92. Begitu sampai di Indonesia baru diolah menjadi Ron 90 (Pertalite) dan Ron 88 (premium).

Dengan begitu, beralihnya pengguna Pertamax ke Pertalite hanya akan berpengaruh terhadap pengolahan minyak mentah yang dilakukan Pertamina, yaitu minyak mentah yang diolah jadi Pertalite diperbanyak ketimbang premium.

“Mungkin di dalam proses pengolahan saja Pertamina akan lebih memperbanyak untuk produk-produk Pertalitenya saat blending-nya nanti,” tambahnya.

(eds/eds)

Sumber: detik.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.