MERIAH-Pawai Pelas Benua Iringi pembukaan HUT desa Selerong ke 100 Tahun. (Foto: Istimewa)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Ratusan pelajar dari berbagai tingkatan sejak Minggu (13/10/2018) pagi berkumpul di Lapangan Bola Desa Selerong, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) untuk mengikuti pembukaan Pelas Benua 100 Tahun Desa Selerong atau  1 Abad sejak 15 Oktober 1918 silam.

Kegiatan tersebut diawali dengan Pawai Akbar dari 5 Benua yakni Desa Selerong, Lekaq Kidau, Senoni, Sanggulan dan Tanjung Harapan, dilepas oleh Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Sri Wahyuni, di lapangan bola menuju Alun-alun Kantor Desa Selerong dilanjutkan pembukaan Pelas Benua 100 tahun desa Selerong.

Plt Bupati Kukar Edi Damansyah dalam sambutan tertulisnya dibacakan oleh Kadispar Sri Wahyuni mengapresiasi atas terselenggaranya Pelas Benua ke 100 tahun desa Selerong.

“Saya mengucapkan terima kasih dan mengapresiasi atas terselengaranya berbagai kegiatan dalam rangka memeriahkan pelas benua desa Selerong 100 tahun,” katanya.

Kegiatan tersebut juga dilanjutkan dengan acara Beserawenan (bahasa Kutai-red) yang berarti makan bersama berlangsung di Alun-alun kantor desa Selerong.

“Beserawenan ini, menambah khasanah budaya lokal, melestarikan nilai-nilai budaya hingga mengembangan wisata budaya daerah khas dan unik,” ujarnya.

Baca juga: Peringati 1 Abad Selerong, Gelar Turnamen Bola Berhadiah Ratusan Juta

“Ini patut disyukuri bahwa daerah kita dianugerahi kekayaan budaya, tradisi, adat istiadat dan hasil karya seni yang bernilai tinggi. Potensi ini juga patut dipelihara keberadaannya, bahkan harus ditingkatkan baik dari segi kualitas, kuantitas serta keunikannya,” katanya.

Menurutnya, desa Selerong diusianya yang ke-100 tahun akan terus tumbuh dan berkembang mencari jati diri, berbenah diri untuk memberikan kontribusi bagi daerah dan negeri tercinta ini.

“Hari ini, kita tunjukkan kepada generasi muda, bahwa desa Selerong kaya akan budaya dan harus dijaga kelestariannya. Saya berharap melalui seni dan budaya yang dimiliki dapat menjual potensi yang ada. Jadikan Selerong sebuah daerah yang lebih dikenal dengan potensi keanekaragaman budaya. Dikenal luas melalu seni dan budaya khas keunikannya,” harapnya.

Sementara itu Camat Sebulu Mufvijar mengatakan, perayaan 100 tahun desa Selerong semakin menunjukkan eksistensinya, bahwa pemerintah dan masyarakat Selerong mampu menyejukkan dalam menjaga kerukunan, keberagaman dan toleransi saling menghargai dan saling menghormati.

“Terima kasih atas kebersamaan semua masyarakat Sebulu yang telah berkomitmen bersatu padu memberikan karya dan prestasi terbaik untuk percepatan pembangunan disegala bidiang,”. Apresiasi Mufvijar.

Untuk diketahui, kegiatan pelas benua Selerong akan berlangsung selama 40 hari 40 malam, dimana pada Minggu (14/10) malam digelar hiburan rakyat dan tari adat Kutai. Kemudian keesokan harinya dilanjutkan dengan Betuhing (bahasa Kutai-red) yang berarti larangan/pantangan atau tidak boleh dilanggar berlangsung selama 3 hari. Setelah itu barulah dimulai berbagai kegiatan baik itu turnamen bola, hingga festival lainnya.

(wan/wk) 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.