Beginilah suasana peringatan upacara HUT PGRI dan Hari Guru Nasional di Muara Muntai. (Foto: Dedy)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Ratusan guru yang berada di Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) memperingati HUT PGRI ke-73 dan Hari Guru Nasional dalam sebuah upacara peringatan, berlangsung di halaman SMP Negeri 1 Muara Muntai, Senin (26/11/2018).

Upacara itu dihadiri oleh Camat Muara Muntai Muhammad Dahlan, Kapolsek AKP Salamun SH, Danramil diwakili Serda Amin Tahari, ratusan guru yang ada di kecamatan Muara Muntai, termasuk para siswa-siswi dari berbagai tingkatan turut mengikuti upacara.

Dalam sambutan tertulisnya, Ketua Umum Pengurus Besar PGRI Unifah Rosyidi dibacakan oleh Drs Husni Anwar selaku pembina upacara, mengatakan dengan dijiwai semangat proklamasi 17 Agustus 1945, PGRI lahir di bawah panji perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia.

PGRI hadir bukan hanya ikut serta memperjuangkan NKRI tetapi juga berperang melawan kebodohan dan keterbelakangan, sekaligus berjuang untuk mengangkat harkat dan martabat guru.

Dalam era revolusi industri 4.0 sistem pendidikan nasional dihadapkan pada tantangan yang amat kompleks tetapi menarik. Oleh karena itu, PGRI sebagai organisasi profesi juga ditantang agar mampu menggerakan guru, pendidik, dan tenaga kependidikan memberikan andil tidak hanya dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah, tetapi lebih dari itu harus merasa terpanggil untuk ikut melahirkan pemikiran transformatif dalam pengembangan kebijakan pemerintah, pengelolaan program pembangunan di pusat dan di daerah, serta dalam melahirkan berbagai gagasan dan tindakan inovatif sesuai dengan tantangan Abad ke 21.

Dia juga menyampaikan terima kasih kepada Bapak Presiden RI, Wakil Presiden RI, Mendikbud, dan jajarannya yang responsif terhadap permasalahan guru yang selalu diperjuangkan PGRI. Harapan PGRI agar ada pembenahan terhadap persoalan utama guru dalam melaksanakan tugas seperti administrasi guru yang berbelit-belit, rumitnya persoalan penyaluran TPG, dan penyelesaian guru honorer mulai memperoleh hasilnya seperti terbitnya: Permendikbud No.10/2018 mengenai Juknis penyaluran TPG yang mengakomodasi ibadah Haji, cuti baik karena sakit maupun alasan lain dalam waktu yang relatif cukup lama, dan hal-hal lainnya.

Selain itu, kembalinya mata pelajaran informatika sebagai pengganti mata pelajaran TIK yang sempat terhapus, diakuinya mata pelajaran Bahasa Asing, desentralisasi urusan kenaikan pangkat ke daerah, dan penyelesaian beragam persoalan yang dirasakan guru akan terus PGRI perjuangkan agar guru-guru dapat berdaulat dan bermartabat dan fokus dalam pendidikan dan pembelajaran yang berkualitas.

Mengingat tidak semua GTK honorer tidak berkesempatan mengikuti tes CPNS karena terkendala persyaratan usia, selanjutnya kami sangat menantikan PP PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) diterbitkan dan semoga menjadi kado HGN dan HUT PGRI Tahun 2018.

Selain itu, kami menyadari masih banyak agenda perjuangan guru baik negeri swasta, tetap, tidak tetap yang harus secara konsisten diperjuangkan PGRI.

Saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh guru, pendidik, dan tenaga kependidikan utamanya guru honorer yang selama ini tiada kenal lelah mengisi kekosongan guru. Tanpa dedikasi mereka, dapat dibayangkan bagaimana proses pembelajaran berlangsung karena kekurangan guru. Terima kasih kepada: pemerintah Pusat utamanya Kemdikbud dan Pemerintah Daerah yang menempatkan PGRI sebagai mitra strategis dalam perumuskan dan pelaksanakan kebijakan, serta dalam merespon perjuangan PGRI.

Semoga dengan semua usaha ini mendorong guru dan tenaga kependidikan bersemangat bekerja lebih efektif, disiplin, tidak mudah mengeluh, menjaga kode etik guru, merawat persatuan dan kesatauan, menjauhkan dari sikap intoleran, membangun komunikasi efektif dengan orang tua, dan terus menjadi pembelajar demi kepentingan terbaik bagi peserta didik dan bangsa Indonesia.

Kami mohon agar para pengurus PGRI di semua tingkatan mengawal perjuangan dan aspirasi para guru, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam mewujudkan profesionalisme, kesejahteraan, dan perlindungan dengan mengedepankan dialog, berbasis data, santun, dan bermartabat tanpa membedakan status guru apapun termasuk guru PAUD. Jadikan PGRI sebagai rumah besar guru, pendidik, dan tenaga kependidikan dalam memperjuangkan aspirasi, tempat saling bertumbuh dan berbagi, tempat silaturahmi membangun dan menyebarkan kebaikan bagi negeri.

“Guru sebagai Penggerak Perubahan di era Revolusi Industri,” kataya

Akhirnya, saya mengucapkan selamat Hari Guru Nasional tahun 2018 dan HUT ke-73 PGRI kepada para guru di seluruh tanah air, semoga pengabdian kita memberikan makna bagi bangsa dan negara serta kemanusiaan, serta sebagai ibadah kepada Tuhan Yang Maha Esa. Aamiin. Mari kita tutup dengan salam perjuangan!

Hidup Guru !, Hidup PGRI !, Solidaritas ! Yes!. Dan Salam Pancasila!. Demikian sambutan tertulis Ketua PGRI.

(dedy/wk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.