Beginilah suasana lomba olahraga tradisional begasing yang rutin dilaksanakan setiap minggunya di Muara Muntai Ilir. (Foto: Ist)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Selain berprofesi sebagai nelayan di wilayah pedalaman Hulu Mahakam, warga Muara Muntai Ilir, Kecamatan Muara Muntai, Kutai Kartanegara (Kukar), tidak melupakan seni dan budaya tradisional, salah satunya olahraga Begasing yang secara turun temurun hingga kini masih terus dilestarikan.

Bahkan olahraga tradisionoal begasing tersebut juga kerap dimainkan dan pertontonkan pada agenda event daerah seperti Festival Erau Adat Kutai International Folk Art Festival (EIFAF) setiap tahunnya oleh Pemkab Kukar yang dihadiri berbagai delegasi mancanegara.

Di Muara Muntai Sendiri mulai dari kalanganan orang tua, dewasa hingga anak-anak turut memainkan olahraga begasing. Tidak hanya sekedar ramai-ramai dimainkan melainkan begasing tersebut dilombakan dengan berbagai kategori lomba.

Baca juga: Plt Bupati Apresiasi Penobatan Sultan Kutai ke-XXI Berjalan Lancar

“Ya, olahraga tradisional begasing ini terus kita perkenalkan kepada generasi muda agar tidak punah. Salah satunya dengan menggelar lomba setiap minggu dan mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat bahkan pesertanya juga dari berbagai kalangan,” kata Agus selaku panitia lomba berlangsung di RT.03 Muara Muntai Ilir, Sabtu (15/12/2018) malam.

Menurut ia, lomba olahraga tradisional begasing di kecamatan Muara Muntai terus dilestarikan dan maju.

“Selain menumbuhkan kecintaan akan olahraga tradisional begasing, juga untuk mencari bibit-bibit potensial begasing Muara Muntai yang nantinya bisa dikirkim dalam event daerah di Festival Erau Tahun 2019 mendatang,” ujarnya.

Ia juga mengaku peserta lomba begasing yang rutin dilaksanakan setiap malam minggu ramai diikuti puluhan peserta.

“Malam ini sebanyak 48 orang peserta mengikuti lomba begasing, pesertanya terus bertambah dan diikuti oleh desa Muara Muntai Ilir, Kayu Batu, Rebak Rinding serta Muara Muntai Ulu,” katanya.

Adapun begasing yang dimainkan sesuai dengan kreteria masing-masing kategori. Kategori dewasa menggunakan begasing yang terbuat dari kayu bangris, sedangkan anak-anak menggunakan gasing yang terbuat dari kayu ulin (Telihan bahasa Kutai).

“Inilah cara kita untuk terus menghidupkan olahraga tradisional begasing, sehingga jangan sampai tenggelam ditelan zaman melainkan terus kita kembangkan,” jelas Agus.

Sementara itu Andi salah satu peserta mengungkapkan rasa bangganya dapat berpartisipasi dalam menghidupkan dan melestariakan olahraga tradisional begasing di Muara Muntai.

“Kegiatan begasing ini harus terus dilestarikan dan jangan sampai hilang, karna ini merupakan salah satu budaya nenek moyang kita mempertahankan arifan lokal dan menjalin silaturahmi sesama warga lainnya melalui olehraga begasing,” harap Andi.

Ia juga mengaku saat ini bahan kayu bangris dan ulin terasa langka, dan salah satu bahan baku dari pembuatan gasing tersebut adalah kayu bangris yang sangat kuat termasuk ulin.

“Ya, kita buat secara manual dari bahan kayu bangris dan ulin. Gasing-gasing yang sudah diolah tersebut dapat digunakan langsung oleh orang dewasa hingga anak-anak,” jelasnya. (dedy/wk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.