PERAN seorang ibu pada masa sekarang tampaknya semakin berat dan meningkat. Namun sebagai bangsa yang besar,  tentunya kita sepakat untuk pantang menyerah, pantang mundur dan pantang mengeluh. Semua tantangan itu kita jadikan makanan lezat yang harus dihadapi dengan penuh kesabaran dan keikhlasan.

Hal tersebut disampaikan Artati Mochfizar dalam acara Peringatan Hari Ibu ke-90, dipusatkan di Desa Giri Agung Kecamatan Sebulu, Kutai Kartanegara (Kukar), Sabtu (22/12/2018).

Artati mengingatkan bahwa ditengah-tengah makin berkembangnya teknologi yang makin canggih, sebagai seorang ibu juga merasakan betapa hebatnya dampak dari perkembangan tersebut.

Baca juga: 14 Gudep Ikuti Perkemahan Awang Long Expression di Muara Kaman

“Tanggung jawab seorang ibu saat ini dihadapkan dengan berbagai persoalan,  tantangan, bahkan masalah kaum bapak pun menjadi bagian dari permasalahan para ibu,” ujar Artati.

Untuk itu Ia, menghimbau kepada para kaum bapak agar jangan pernah menganggap kecil peranan kaum ibu.Tanpa ibu kita ibarat burung takkan pernah terbang sempurna dan terbang perkasa.

“Hari ini merupakan bentuk perhatian kami sebagai warga negara. Jadi khusus hari ini, kami imbau para pegawai perempuan dilingkungan Kantor Camat Sebulu dan Perangkat Desa untuk mengenakan pakaian kebaya. Menandakan betapa beratnya perjuangan ibu-ibu di masa kemerdekaan hingga saat ini,” kata Artati Mochfizar.

Ia juga kembali mengingatkan, kaum ibu hendaknya juga menyadari bahwa dengan tugas berat sekarang ini harus tetap waspada dan tanggung jawab akan kehidupan.

“Tanggung jawab ibu tidak hanya terbatas pada tanggung jawab di dapur dan tempat tidur saja, lebih dari itu, sudah saatnya kaum ibu membantu para bapak, jika perlu bantulah meringankan tugas bapak baik di rumah, luar rumah, kalau perlu juga di medan perang,” ujarnya.

Namun demikian, kata Artati sebagai kaum hawa juga harus tahu batas- batas antara tugas dan tanggung jawab sebagai seorang ibu.

“Janganlah mencampuri yang bukan urusan kita, namun tetaplah waspada, kapan kita boleh membantu dan kapan pula kita menentukan sikap terhadap kaum bapak. Semuanya itu kita lakukan untuk menjaga citra sebagai Ibu yang memiliki kepribadian berbabgsa, berbudi luhur, Pancasila dan UUD 1945,” kata Artati mengakhiri.

Kegiatan hari Ibu juga ditandai dengan penampilan sebuah drama yang mengisahkan tentang “Anak yang durhaka kepada Ibu-nya”. Selain itu berbagai lomba seperti busana Farrah, kerajinan menyusun kelas plastik menjadi lampu lampion, hingga lomba merangkai bunga turut mewarnai peringatan Hari Ibu ke-90 di Sebulu. (ekho/wk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.