WARTAKALTIM.CO, BALIKPAPAN – Patut Dicontoh, apa yang dilakukan oleh SMP Negeri 1 Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim) dalam meningkatkan kualitas literasi siswa, salah satunya dengan menggandeng para wali murid turut serta berkontribusi menyumbangkan buku ke sekolah sebagai bahan pembelajaran para siswa-siswi.

Bahkan jajaran SMP Negeri 1 Balikpapan memiliki strategi pendekatan yang luar biasa kepada wali murid yang berawal dari penyelenggaraan lomba perpustakaan mini di tiap kelas. Para orang tua pun menyambut positif bahkan dengan sukarela berkontribusi pada acara itu.

Disaat rapat pada pertengahan Oktober 2018 lalu, wali kelas di masing-masing kelas membeberkan pentingnya literasi. Orang tua kemudian diajak berpartisipasi dalam kegiatan lomba perpustakaan mini, terutama dalam pengadaan buku dan tempatnya.

Mereka sukarela menyumbangkan buku, bahkan banyak yang lebih dari satu. Buku-buku yang disumbangkan adalah bacaan yang sesuai dengan usia siswa mulai dari buku novel, fiksi, komik dan lain-lain.

“Ide mengadakan lomba perpustakaan mini ini datang setelah salah satu guru kami, Aryanti selaku penanggung jawab bagian literasi di sekolah, mengikuti pelatihan literasi dari Kementrian Pendidikan, yang juga bersamaan dengan pelatihan Tanoto Foundation,” kata Irma, guru bahasa Inggris salah satu panitia kegiatan, Senin (21/1/2019).

Untuk mendorong literasi sekolah, sekolah yang terletak di tengah kota Balikpapan ini juga mengadakan lomba resensi buku, membuat jurnal siswa, pembiasaan membaca 15 menit dan sebagainya.

“Peran orang tua dalam gerakan literasi di sekolah sangatlah urgen. Selain menyumbang buku, orang tua siswa punya peranan penting untuk mendorong pembiasaan membaca di rumah. Misalnya, dengan membangun kesepakatan dengan anak mematikan hp dan televisi sampai waktu tertentu, digantikan dengan belajar atau membaca buku,” kata Affan Surya, Provincial Koordinator Program PINTAR Tanoto Foundation Kaltim.

Menurut Affan, literasi yang rendah pada tingkat individu bisa menyebabkan kurangnya kemampuan individu tersebut untuk memahami informasi dan mengolahnya menjadi sesuatu yang menguntungkan bagi hidupnya, rendahnya pendapatan, pekerjaan, pengembangan diri yang kurang, rendahnya percaya diri, dan bahkan pada problema kesehatan individu.

“Pada tingkat masyarakat, menyebabkan minimnya orang yang memiliki pengetahuan dan skill sehingga mempengaruhi pendapatan negara. Rendahnya Kualitas partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan yang sesuai dengan kondisi masyarakat. Hoaks juga mudah menyebar yang membuat masyarakat rentan konflik,” jelasnya. (wan/wk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.