Kitab suci bukan fiksi, karena ia bukan imajinasi, namun pemberitahuan tentang kenyataan, yang telah terjadi ataupun yang akan terjadi. Gaib bukan fiktif tapi hakiki dan benar bagi orang beriman (TGB) 

JAKARTA – Bulan April 2018 dalam acara Indonesia Lawyer Club (ILC) TV One, Rocky Gerung mengemukan pendapatnya bahwa Kitab Suci itu Fiksi. Ungkapan kontroversial pengamat politik ini menuai pro-kontra.

Tidak hanya terjadi polemik, bahkan Rocky Gerung dilaporkan oleh Jack Boyd Lapian, bahwa ungkapan ini termasuk kasus penistaan agama.

Perdebatan tentang “kita suci itu fiksi” kembali muncul  Indonesia Lawyers Club (ILC) pada Selasa (5/2/2019). Dan tentu saja, sampai hari ini perbedaan pendapat itu terus menggema, terutama di dunia maya.

Tak terkecuali, pagi ini banyak yang bertanya kepada Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. Muhammad Zainul Majdi, MA. jalur pribadi di medsos. Sebagai ulama, doktor jebolan fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Ilmu-Ilmu Al-Qur’an Universitas Al-Azhar Mesir ini memberikan catatan atas pendapat RG.

“Saya tulis itu pagi ini karena banyak yang japri saya sambil melampirkan link beberapa tokoh yang mencari pembenaran ttg itu. Concern saya cuma satu, jangan sampai urusan politik membuat kita mentolerir bahkan menjustifikasi sesuatu yang menyentuh salah satu fundamen agama kita.

Nanti, entah berapa tahun lagi, generasi berikut akan lupa konteks dan hanya ingat klausa : Kitab Suci Itu Fiksi. Dan itu sangat destruktif.” Tulis TGB setelah memosting Catatan Catatan tentang “Kitab Suci itu Fiksi.”

Apa saja isi catatan TGB untuk membantah pendapat Rocky Gerung itu? Ini dia 6 catatan TGB:

  1. Saya tidak bisa bayangkan kalau di sebuah toko buku, Al-Quran diletakkan di rak “fiksi” bersama novel, dongeng, kumpulan cerpen dan karya fiksi lain. Bisa didemo toko itu;
  2. Kitab suci bukan fiksi, karena ia bukan imajinasi, namun pemberitahuan tentang kenyataan, yang telah terjadi ataupun yang akan terjadi. Gaib bukan fiktif tapi hakiki dan benar bagi orang beriman;
  3. “Kitab suci itu fiksi” sebenarnya bukan klausa baru.

Thaha Husein, sastrawan terkemuka Mesir, pernah menulis dalam bukunya “Fi Asy-sy’ril jahily” (Tentang Syair Masa Jahiliyah) hal serupa. Mengambil kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dalam kitab suci, Thaha Husein menyimpulkan bahwa kisah itu “mutakallafah wa mashnu’ah fii ‘ushuurin muta’akhirah da’at ilayha haajatun diiniyyah aw iqtishadiyyah aw siyasiyyah”. Yaitu kisah yang direkayasa dan dibuat-buat di masa belakangan untuk motif keagamaan, ekonomi atau politik. Bagi Thaha Husein, kisah Ibrahim dan Ismail dalam Taurat, Injil dan Alquran itu fiksi, imajinatif dan tidak ada landasan sejarahnya alias tidak pernah terjadi. Pernyataan ini menimbulkan kontroversi luar biasa saat itu di Mesir karena dianggap menggergaji dasar yang paling fundamen dalam agama yaitu keyakinan akan kebenaran wahyu. Banyak ulama menulis buku untuk menolak klaim “Kitab suci itu fiksi” ala Thaha Husein ini, seperti Grand Syekh Al-Azhar Syekh Muhammad Al-Khidr Husein dalam kitabnya “Naqd Kitab fi asy-syi’ril jaahily” (Penolakan atas Kitab Tentang Syair Masa Jahiliyah). Yang menarik, di Indonesia, justru sebagian figur yang ditokohkan umat justru berusaha mentakwil dan mencari pembenaran ungkapan “Kitab suci itu fiksi”.

4. Sebagian orang mencari pembenaran dengan mengatakan, bahwa yang dimaksud adalah bukan al-Quran tapi kitab suci yang lain dalam hal ini Injil.

Orang itu lupa dua hal:

Pertama, al-Quran adalah kitab suci, maka ketika disebut “kitab suci”, al-Quran termasuk di dalamnya.
Kedua, kesucian Taurat dan Injil dalam pandangan Islam tetap diakui selain bagian-bagian yang diyakini di-tahrif atau di-tabdil, diganti atau dirubah. Kisah penciptaan alam, kisah para nabi secara umum sealur dengan al-Quran selain beberapa perincian yang berbeda. Wasiat tentang perintah dan larangan juga banyak kesamaan antara Taurat Injil dan al-Quran selain juga ada beberapa perbedaan.

Itu sebabnya para ulama melarang kita untuk melecehkan Injil atau Taurat dengan membuangnya ke tempat sampah misalnya, karena di dalamnya ada nama Allah dan asma-Nya serta firman Allah yang tidak diubah. Bagian yang tidak diubah tentu bukan fiksi karena itu wahyu dari Allah SWT.

Karena itu pula, terkadang para ulama mengutip Taurat atau Injil untuk menguatkan apa yang ada dalam Al-Quran seperti kisah tentang Bani Israil dalam kitab-kitab tafsir. Ungkapan “Kitab suci itu fiksi” menghantam semua pondasi kemutlakan dan kebenaran wahyu. Baik al-Quran, Injil maupun kitab suci lainnya.

5. Ungkapan “Kitab Suci itu Fiksi” ditambah ucapan “Atheisme itu diijinkan oleh Pancasila” oleh orang yang sama kiranya cukup menjelaskan pandangan orang tersebut terhadap agama.

6. Upaya untuk bernasehat dalam kebaikan, meluruskan hal yang perlu diluruskan, apalagi yang menyangkut hal yang sangat fundamental dalam beragama harus terus dilakukan, apapun pandangan atau sikap politik kita. Sikap dan pandangan politik bersifat ijtihaady, sedangkan fundamen agama itu qath’iy.

Wallahu a’lam
Demikian bantah TGB terhadap pendapat Rocky Gerung bahwa “Kitab Cuci Itu Fiksi” (hz/WST/YNF)

Sumber: sinarlimanews.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.