Siswa di SD 012 Kukar sedang menikmati membaca buku di pojok baca. (Foto: Ist)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Agar siswa gemar membaca buku, banyak rekayasa yang harus dilakukan sekolah. Tanpa rekayasa yang terprogram, kebiasaan membaca buku juga tidak akan tumbuh. Salah satu yang penting adalah rekayasa menarik sumbangan buku dari masyarakat.

Hal tersebut dikatakan oleh Mustajib selaku Specialist Tanoto Foundation yang kini bermitra dengan Pemkab Kukar dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar, Jumat (5/4/2019).

“Sekolah-sekolah yang sudah menerapkan program literasi, biasanya mengalami kendala kekurangan buku saat program tersebut sudah berjalan. Siswa masih mau membaca buku, tetapi buku-buku yang bagus sudah terbaca semua. Hal ini bisa menurunkan semangat dan minat siswa untuk membaca,” katanya.

Menurut Mustajib menjabarkan seperti di  SD 012 Kukar, semenjak dilatihkan program budaya baca. Sekolah mitra Tanoto Foundation ini sudah mulai menjalankan program literasi. Namun sekolahnya masih kekurangan banyak buku.

“Buku di sekolah banyak sudah dibaca siswa. Strategi yang digunakan adalah memutar buku yang ada di pojok baca di setiap kelas ke kelas-kelas yang lain,” ujarnya.

Tidak hanya itu, sekolah lainnya juga menerapkan strategi yang sama dengan mendulang buku dari masyarakat dan dunia usaha membantu penyediaan buku bacaan bagi siswa-siswi.

“Ini sudah dilakukan oleh Madrasah Ibtidakiyah Asy Syauqi Kukar menjalin kerjasama dengan perusahaan penerbitan. Dengan cerdik, sang kepala madrasah (Iip Syarifah-red), sebagai timbal balik pembelian buku tersebut, mengusulkan perusahaan membantu meningkatkan budaya literasi sekolah,” katanya.

Bahkan sekolahnya juga mengusulkan agar perusahaan mengadakan reading day per kelas tiap minggu. Usul tersebut diterima. Perusahaan sesuai jadwal membawa banyak buku cerita ke kelas. Selama kurang lebih satu jam, para siswa membaca dan menceritakan isi buku bacaan. Perusahaan  memberikan hadiah buku carita bagi siswa yang berani bercerita di depan teman-temannya dengan baik.

“Kegiatan seperti ini sudah berlangsung dua kali. Selain itu sekolah juga membentuk paguyuban kelas dan mengorganisasikannya lewat grup di whats apps. Lewat aplikasi tersebut, ia menghimbau orang tua siswa yang tergabung di dalamnya menyumbangkan buku. Saat penyerahan buku, gambar-gambarnya juga ia share di grup, sehingga memantik orang tua lainnya untuk perduli,” ujarnya.

Ditambahkan Mustajib, SDN 003 Tenggarong juga melakukan penarikan buku dari calon alumni menambah jumlah buku.

“Ini juga perlu dicontoh, kepsek SDN 003 Tenggarong (Kurnia-red) mewajibkan para siswa yang mau lulus menyumbangkan minimal satu buku cerita ke sekolah. Buku tersebut kemudian distempel tersendiri. Stempel alumni. Setiap lulusan sekolah, rata-rata sekolah mendapatkan 60 buku dari alumni dan menambah koleksi buku di sudut-sudut baca ke setiap kelas yang lain,” jelasnya. (wan/wk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.