Camat Tenggarong Seberang Suhari saat membacakan sambutan tertulis Bupati Kukar dalam acara Loa Raya bershalawat. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Ratusan masyarakat Loa Raya dan sekitarnya bersama-sama menghadiri Loa Raya Bershalawat dengan menghadirkan Pimpinan Majelis Rasulullah Kalimantan Timur (Kaltim) Al Mukarram Al Habib Hasyim bin Syeikh Abu Bakar bin Salim, di Lapangan Arsyamuda Loa Raya, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kamis (22/8/2019) malam.

“Loa Raya bershalawat ini merupakan salah satu upaya bersama untuk menjaga kondusifitas Kutai Kartanegara tetap terjaga dengan baik, terutama saling menjaga ketentraman dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat,” kata Bupati Kukar Edi Damansyah dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Camat Tenggarong Seberang Suhari.

Dalam sambutan tertulisnya juga mengatakan bahwa akhir-akhir ini ramai diberitakan berbagai isu negatif seputar hubungan antarumat beragama. Informasi yang sepatutnya bersifat privat atau hanya untuk kalangan tertentu, diviralkan bahkan di-framing melalui berbagai saluran media massa untuk menyatakan bahwa perbedaan itu nyata dan hadir di antara para pemeluk agama di Indonesia.

Kebhinekaan Indonesia tengah diuji oleh sikap segelintir pihak yang ingin memecah belah kehidupan berbangsa dan bernegara yang damai, aman dan tenteram, dengan menonjolkan perbedaan keyakinan para penduduknya.

Di lain pihak umat Islam sebagai pemeluk agama mayoritas di negeri ini seperti dibelah dua, yaitu antara pihak yang pro dan kontra dalam semangat berbangsa dan bernegara. Aspek kebhinnekaan di dalam kehidupan umat beragama menurut persepsi pihak yang kontra dengan semangat kebangsaan dianggap sebagai candu, yang secara perlahan akan merusak sendi-sendi keimanan pemeluk agama Islam. Sedangkan, kenyataannya agama Islam mengajarkan kepada seluruh umat manusia tentang nilai-nilai solidaritas dan toleransi yang tinggi.

“Sebagai warga negara Indonesia patut untuk mawas diri, bersatu padu untuk mencegah hadirnya perpecahan dalam persatuan dan kesatuan bangsa. Kita harus menjunjung tinggi toleransi dan senantiasa menjaga tali silaturrahmi dalam berbagai aspek kehidupan. Serta yang terpenting, kita patut berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan untuk mengharapkan ridho Allah SWT,” serunya.

Menurutnya, di titik inilah, Al Quran dengan indahnya memproyeksikan adanya keragaman agama dalam kehidupan umat manusia sebagai celah untuk berkompetisi secara positif dalam berbuat kebaikan.

Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya yang mereka menghadap kepadanya, maka berlomba-lombalah dalam berbuat kebajikan” (Q.S. Al Baqarah/2:148) sebutnya mengutif surah Al Baqarah.

Ditambahkannya, ajaran Islam telah menyiapkan nilai-nilai luhur sebagai perekat kehidupan manusia, khususnya dalam bingkai kesatuan dan persatuan berbangsa dan bernegara. Nilai-nilai luhur itu ialah “Tasamuh” yaitu sikap hidup yang mengakui dan menghormati perbedaan dalam semua aspek kehidupan, “Islah” yaitu sikap hidup atau tindakan untuk menuju kebaikan bersama, dan “Muwathonah” yaitu sikap hidup yang mengakui negara bangsa dan kewarganegaraan.

“Artinya, jika kita dapat berpegang kepada nilai-nilai ini maka akan tercipta hubungan yang lebih harmonis antar umat beragama. Hubungan yang dilandasi oleh sikap saling menghargai, menghormati, dan saling membantu dalam kehidupan sosial. Sehingga ajaran agama tidak menjadi momok bagi kemanusiaan tetapi menjadi rahmat bagi kehidupan kemanusiaan dan alam semesta,” jelasnya. (wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.