Pimpinan MDI Al Muhib NW Muhib bin Ali memberikan sambutan saat pembukaan training 3 hari teknik menghafal praktis dan cepat abad 21. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah mengapresiasi atas terobosan dan inovasi Pimpinan Madrasah Diniyah Islamiyah (MDI) Al-Muhib Nahdlatul Wathan (Muhib bin Ali-red) menggelar pelatihan menghafal cepat Alquran dan Asmaul Husna (nomor, ayat/asma’ terjemah, acak atau urut, maju dan mundur), dengan menghadirkan penemu dan penulis Metode Hanifida yakni Dr. Khoirotul Idawati, M.Pd dan Dr. Hanifuddin Mahadun, M.Ag dari Jombang, Jawa Timur.

“Saya berharap para pendidik agama Islam di Kukar mampu memanfaatkan teknik-teknik praktis dalam menghafal cepat, khususnya dalam menghafal Alquran dan Asmahul Husna,” kata Edi Damansyah dalam sambutan tertulisnya dibacakan oleh Asisten I Setkab Kukar Akhmad Taufik Hidayat sekaligus membuka Training 3 Hari Teknik Menghafal Praktis dan Cepat Abad 21 di MDI Al-Muhib Nahdlatul Wathan, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kamis 29/8/2019) pagi.

Menurut dia, pembelajaran model accelerated learning (belajar cepat) adalah pola yang didesain untuk menggugah kemampuan belajar peserta didik, membuat kegiatan belajar lebih menyenangkan dan lebih cepat, dalam hal penguasaan dan pemahaman materi pelajaran.

“Model belajar cepat dengan materi pelajaran yang awalnya sulit, dibuat menjadi mudah, sederhana, dan tidak bertele-tele, sehingga tidak menimbulkan kejenuhan belajar bagi peserta didik. Keberhasilan belajar pun tidak ditentukan atau diukur dari lamanya kita duduk untuk belajar, tetapi ditentukan oleh kualitas cara belajarnya yang menyenangkan,” ujarnya.

“Intinya, accelerated learning adalah filosofi pembelajaran dan kehidupan yang mengupayakan demekanisasi serta berupaya memanusiawikan kembali proses belajar, menjadikannya sebagai pengalaman bagi seluruh tubuh, seluruh pikiran, dan seluruh pribadi,” ujarnya.

Dijelaskannya, paradigma pendidikan di abad ke-21 saat ini menuntut adanya proses aktualisasi diri bagi peserta didik. Pendidikan yang pada hakekatnya merupakan proses penemuan potensi diri bagi seorang peserta didik harus terus-menerus terjadi dan berlangsung sepanjang hayat. Pendidikan dengan paradigma ini berfungsi untuk mengaktualisasikan potensi yang telah ada atau dimiliki oleh seorang peserta didik, yang mampu memberikan arah, tujuan dan kebermaknaan bagi kehidupan.

“Pendidikan menjadi kekuatan moral dan intelektual bagi seorang peserta didik, yang harus senantiasa berjalan secara seimbang di dalam proses kehidupan. Peserta didik adalah pewaris budaya bangsa yang kreatif, sehingga mampu membangun kehidupannya di masa kini untuk diorientasikan ke masa depan menjadi lebih baik serta memiliki kemampuan intelektual, berkomunikasi, sikap sosial, kepedulian, dan partisipasinya dalam membangun kehidupan masyarakat dan bangsa,” jelasnya.

Sementara itu Pimpinan Madrasah Diniyah Islamiyah (MDI) Al-Muhib Nahdlatul Wathan (NW) Muhib bin Ali mengatakan kegiatan pelatihan tersebut sebagai salah satu upaya dalam mempercepat hafalan quran dan asmaul husna mulai dari nomor, ayat/asma, terjemah, acak atau urut, maju dan mundur dengan metode Hanifida.

“Pelatihan menghafal quran ini juga sekaligus upaya mewujudkan impian Bupati Kutai Kartanegara (Edi Damansyah-red) dalam mencanangkan 1 desa 1 hafidz quran,” ujarnya.

(wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.