Bupati Kukar Edi Damansyah, Gubernur Kaltim Isran Noor serta pihak kesultanan Kutai saat menghadiri prosesi Erau Adat di Keraton, Musium Mulawarman. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah berharap Festival Budaya Adat Erau yang dirangkai dengan berbagai pagelaran seni budaya menjadi yang terbesar di Kukar maupun Kalimantan Timur (Kaltim), berdampak terhadap peningkatan ekonomi kerakyatan.

“Saya berharap festival Adat Erau sebagai perhelatan budaya terbesar di Kukar maupun Kaltim ini, semakin melestarikan adat istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura yang akan berdampak luas terhadap peningkatan ekonomi masyarakat,” kata Edi Damansyah usai menghadiri prosesi Erau di Keraton, Musium Mulawarman, Tenggarong, Minggu (8/9/2019).

Baca juga: Dirikan Ayu, Festival Erau Adat Kutai Tahun 2019 Resmi di Mulai

Menurut Edi, sebagai bentuk dukungan, Erau Adat Kutai juga seiring dengan amanat Peraturan Daerah (Perda) No. 02/2016, tentang Pelestarian Adat Istiadat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

“Artinya, pemerintah daerah juga terus mendorong pemajuan kebudayaan dan identitas daerah sesuai amanat Peraturan Daerah (Perda) No. 4/2018, tentang Pemajuan Kebudayaan dan Identitas Daerah,” katanya.

Dijelaskan Edi, disisi lain tentunya perhelatan budaya tersebut memberikan dampak sosial dan ekonomi bagi masyarakat, baik dalam kegiatan pengenalan dan pembelajaran budaya Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan aktualisasi seni budaya daerah.

“Seiring dengan pengenalan budaya ini, tentu berdampak terhadap perpuratan ekonomi yang dirasakan langsung oleh masyarakat dari banyaknya pengunjung yang datang dan memerlukan berbagai jasa pelayanan dari berbagai pelaku usaha terutama dari segi kunjungan wisata, mengenali, menikmati upacara adat erau,” jelasnya.

Diketahui, sebelum acara seremoni festival Erau dibuka, terlebih dahulu dilakukan upacara prosesi adat yang ditandai dengan pendirian Ayu oleh kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, disaksikan Sultan Kutai Adji Muhammad Arifin.

Ritual pendirian Ayu merupakan sebuah tiang yang berbentuk tombak dari kayu ulin. Disebut juga dengan sangkoh piatu, dimana pada batangnya diikatkan Tali Juwita dan Tali Cinde yang melambangkan kekeluargaan kesultanan Kutai dan diakhiri dengan pembacaan doa oleh Plt Kementerian Agama (Kemenag) Kutai Kartanegara H Nasrun.

Prosesi tersebut dihadiri Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) Isran Noor, Bupati Kukar Edi Damansyah, Forum Koordinasi Perangkat Daerah (Forkopimda), Kepala Organisasi Perangkat daerah (OPD), serta tamu undangan lainnya. (wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.