Bupati Kukar saat menghadiri Workshop Pengembangan dan Penguatan Seni Pertunjukan. (Foto: Ist)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) Edi Damansyah mendukung pengembangan dan penguatan seni pertunjukan di Kukar.

“Saya mendorong agar seni pertunjukan di Kukar terus dikembangkan, termasuk potensi semua desa memiliki festival seni pertunjukan,” kata Edi Damansyah saat menghadiri Workshop Pengembangan dan Penguatan Seni Pertunjukan di Pendopo Wakil Bupati, Tenggarong, Sabtu (14/9/2019).

Menurut Edi, Kukar telah menyandang predikat 4 besar sebagai kota kreatif seni pertunjukan di Indonesia dari Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) RI.

“Saya berharap, pengembangan seni pertunjukan di Kukar kedepannya menjadi salah satu sektor yang menjanjikan, sehingga kedepannya tidak lagi mengandalkan sektor Sumber Daya Alam (SDA),” ujarnya

Sementara itu, Nala Arung, pelaku seni sekaligus Direktur Operasional Borneo Creative Network (Bocnet) mengatakan, pengembangan seni pertunjukan di Kukar sangat potensial dan memiliki nilai jual.

“Ya, kaitannya dengan Bekraf RI, dirancang festival seni pertunjukan yang nantinya memiliki nilai jual dan saat ini masih dalam proses identifikasi masing-maisng kesenian,” katanya.

Ia juga sepakat dengan apa yang dikatakan Bupati Kukar (Edi Damansyah-red) bahwa kedepannya setiap desa di Kukar mempunyai potensinya masing-masing dalam festival pertunjukan. Seperti Desa Kedang Ipil yang punya Festival Budaya Kutai Adat Lawas.

“Ya, saat ini baru ada 2 (dua) festival seni pertunjukan yang sudah bangkit dan dianggap punya skala nasionaI yakni festival Adat Erau dan Rockin’ Borneo,” ujarnya.

Lanjut Nala, ajang seperti ini harus lebih banyak menggabungkan unsur modernitas dan tradisi. “Jangka pendeknya, kata Nala, sebulan ke depan kami akan sosialisasi tagline The Magical Borneo karena kita butuh branding kota untuk menggaungkannya lebih kuat,” katanya.

Dalam workshop itu, Nala Arung juga memaparkan makna dari The Magical Borneo tentang Pengembangan dan Penguatan Seni Pertunjukan di hadapan Direktur Fasilitasi Infrastruktur Fisik Bekraf RI Selliane Halia Ishak, Bupati Kukar Edi Damansyah dan Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Kukar Sri Wahyuni.

Menurutnya, filosofi The Magical Borneo muncul dari 3 sudut pandang, yakni sisi historis, mitologi dan sosiologi. Dari sisi sejarah, Kutai dikenal sebagai Kerajaan Hindu tertua.

Pada masa Raja Mulawarman memberikan pengaruh luar biasa dan mengalami periode keemasan. Beberapa abad kemudian mengalami masa keamasan tambang di masa Sultan AM Sulaiman.

“Zaman keemasan ini terus berlanjut pada masa pemerintahan Bupati Syaukani dengan episode Gerbang (Gerakan Pembangunan),” katanya.

Sekarang wilayah Kukar lanjut dia, dicalonkan sebagai ibu kota negara baru. “Ini seperti perjalanan sejarah yang betul-betul magical,” ucap Nala.

Dari sudut pandang sosiologis, menurutnya, semua aset budaya di Kutai Kartaegara belum tereksplorasi, mulai pedalaman hingga pesisir.

“Kita belum membenahi seni pertunjukan kita, kalau ini kita benahi betul-betul menjadi sesuatu yang megah sekali di Indonesia, bahkan dunia,” ujarnya.

Rencana jangka menengah, Kutai Kartaegara bakal membangun gedung kreatif dan membuat pertunjukan seni saat peresmian jalan Tol Samarinda-Balikpapan. Kalau jangka panjangnya, punya konsep untuk menggelar Festival The Magical Borneo dan meluncurkan logo baru kota kreatif.

“Harus lebih fokus menata ekonomi kreatif menjadi sektor unggulan baru. Semua potensi seni di Kukar harus diangkat dan dikemas dengan kultur kekinian, sehingga orang akan sibuk menyaksikan festival baik di Kota Tenggarong, hingga ditingkat Kecamatan. Ya, minimal setiap bulan ada festival di kecamatan secara bergantian,” jelasnya.

(wan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.