Meriah, 6 negara mainkan olahraga tradisional. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, TENGGARONG – Sejak pukul 08.00 Wita, Rabu (25/9/2019) pagi, partisipan grup kesenian rakyat mancanegara yakni Belanda, Thailand, Rusia, Srilangka, Romania dan Mesir tiba di Halaman Parkir samping Masjid Al-Falah, Kelurahan Timbau, Tenggarong, tempat berlangsungnya uji coba Ekhsibisi (Pertandingan persahabatan) bermain olahraga tradisional, meriahkan Tenggarong International Folk Arts Festival (TIFAF) VII 2019.

Mereka langsung bersiap-siap mengikuti uji coba ekhsibisi dengan berbagai permainan yang sudah disiapkan Dinas Pariwisata (Dispar) bekerjasama dengan Rumah Budaya Kutai (RBK) selaku penyedia berbagai permaianan olahraga tradisional seperti, Engrang, Dagongan, Bakiak, Gasing, Simpai atau Hula Hoop dan lainnya.

Uji coba ekshsibisi olahraga tradisional yang dimainkan pertama yakni, bakiak yang merupakan salah satu permainan tradisional terbuat dari kayu panjang seperti seluncur yang dihaluskan dengan beberapa selop tempat pijakan kaki).

Masing-masing partisipan mulai menggunakan bakiak terbagi menjadi tiga lintasan dengan satu grup dimainkan tiga orang. Terlihat raut wajah para partisipan sangat menikmati permainan dengan penuh gembira. Mereka memainkan bakiak dengan cara menggerakkan kaki secara bersama sambil menjaga keseimbangan, mana yang lebih cepat sampai ke garis finish, maka merekalah pemenangnya.

Dalam aksi menariknya, partisipan lainnya turut memberikan semangat kepada rekan-rekannya saat uji coba yang nantinya akan mewakili negaranya masing-masing saat ekhsibisi berlangsung. Dalam uji coba itu, peserta banyak yang gagal menjaga keseimbangan dan terjatuh tidak sampai garis finish, membuat partisipan lainnya bersorak ria.

Setelah memainkan bakiak, dilanjutkan dengan permainan Engrang atau betisan (bahasa Kutai artinya penyambung kaki) adalah galah atau tongkat yang digunakan seseorang agar bisa berdiri dan berjalan kaki sambil berpegangan dikedua tongkat.

Mereka silih berganti mencoba memainkan engrang, terjatuh dan bangkit lagi hingga pemandu engrang tradisional turut mengarahkan dan mencoba memainkan, sampai benar-benar dapat berjalan secara mandiri.

Tidak kalah menariknya juga, partisipan 6 negara itu turut mencoba memainkan gasing tradisional dengan cara menarik ikatan tali yang sudah tersusun pada gasing dan dilepaskan pada tempat yang sudah disiapkan.

Beberapa kali mereka gagal membuat gasing berputar diatas alas yang disiapkan, namun terus diulang sampai berhasil berputar walau hanya sebentar membuat para pengunjung bertepuk tangan.

Setelah permainan gasing, partisipan berpindah dengan memainkan, Dagongan yakni permainan yang menggunakan bambu dengan ukuran tertentu sebagai alat mengadu kekuatan dan permainan lainnya.

“Ya, hari ini (Rabu-red) para partisipan mencoba dan berlatih sebelum mengikuti ekshibisi olahraga tradisional antar negara yang akan berlangsung Kamis (Besok-red) di Pulau Kumala,” katanya.

Menurut dia, uji coba olahraga tradisional sebagai bagian dalam pengenalan olahraga tradisional Kutai di kancah Internasional.

“Berbagai permaianan olahraga tradisional yang kita perkenalkan tersebut membutuhkan konsentrasi dan keseimbangan, seperti permainan engrang. Berjalan bersama sambil menjaga keseimbangan dengan bekiak, begasing dan lainnya yang dimainkan masing-masing partisipan dari 6 grup kesenian rakyat mancanegara,” demikian jelas Sri.

(wan)        

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.