Staf Ahli Bupati Wisaksono Soebagio saat membuka FGD terkait optimalisasi pengelolaan situs kerajaan Kutai Mulawarman. (Foto: Irwan)

WARTAKALTIM.CO, KUKAR – Sejarah penemuan tujuh buah prasasti yang ditulis dalam bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa di atas tugu bernama Yupa, merupakan bukti bahwa Kerajaan Kutai telah ada sejak abad 5 Masehi. Raja pertamanya adalah Raja Mulawarman, seorang cucu dari Maharaja Kudungga. Mulawarman kemudian menamai kerajaannya itu dengan nama Kerajaan Kutai Ing Martadipura.

Penemuan tujuh buah prasasti kerajaan Kutai Ing Martadipura yang saat ini berada di Museum Lesong Batu Kecamatan Muara Kaman, Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi bahan kajian Focus Group Discussion (FGD) Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda) dengan tema ‘Optimalisasi Pegelolaam Situs Kerajaan Kutai Mulawarman Ing Martadipura’ dibuka Staf Ahli Bupati Wisaksono Soebagio, di Kantor Balitbangda Lantai 4, Tenggarong, Rabu (20/11/2019) pagi.

“FGD ini bertujuan mengumpulkan informasi dan data, sehingga diharapkan hasilnya dapat dijadikan salah satu rekomendasi kebijakan daerah terutama dalam mengoptimalisasi pengelolaan situs kerajaan Kutai Ing Martadipura serta adanya peluang kepariwisataan dan kebudayaan daerah,” kata Akhmad Hardi Dwi Putra selaku Kepala Balitbangda Kukar.

Menurut dia, kajian tersebut juga sebagai bagian dalam memberikan rekomendasi kepada pemerintah daerah dalam mengambil kebijakan terkait pengelolaan museum Lesung Batu yang ada di Muara Kaman.

“Museum Lesung Batu merupakan tempat penyimpanan situs sejarah kerajaan Mulawarman dan dinilai sangat berpeluang dalam peningkatan kepariwisataan daerah dengan melibatkan pihak lain dalam pengelolaannya,” ujarnya.

Sementara itu Staf Ahli Bupati Kukar Wisaksono Soebagio menyambut baik atas digelarnya FGD, sebagai bagian dalam menghimpun informasi yang kemudian dituangkan dalam rekomendasi pengambilan kebijakan daerah terkait pengelolaan Situs Kerajaan Kutai Mulawarman Ing Martadipura.

“Saya berharap dari FGD ini dapat didiskusikan secara menyeluruh terkait sejarah Kutai Mulawarman, sehingga didapat rekomendasi sebagai pertimbangan pengambilan kebijakan daerah khususnya dalam pengelolaan museum Lesung Batu di Muara Kaman,” demikian harapnya.

(wk*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.